Selasa, 05 Juli 2011

Terungkap, Durasi 1 Hari di Planet Neptunus

Temuan ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet.

Muhammad Firman
Neptunus, planet gas dengan massa 17 kali lipat lebih besar dibanding Bumi. (sarkanniemi.fi)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Dengan melacak beberapa fitur tertentu di atmosfir, peneliti berhasil melakukan pengukuran akurat pertama terhadap periode rotasi planet Neptunus. Ternyata, satu hari di planet itu berlangsung tepat selama 15 jam, 57 menit dan 59 detik.

Temuan ini memperkaya pengetahuan kita seputar hal yang fundamental di Neptunus dan menyediakan pula mekanisme untuk memahami bagaimana massa planet itu didistribusikan. Seperti diketahui, Neptunus merupakan planet raksasa yang terbuat dari gas.

“Neptunus memiliki dua fitur yang memungkinkan untuk dipantau oleh Hubble Space Telescope yang tampaknya mengatur rotasi interior dari planet tersebut,” kata Erich Karkoschka, ilmuwan dari Lunar and Planetary Laboratory, University of Arizona, seperti dikutip dari Cosmos Magazine, 4 Juli 2011.

Fitur seperti ini, Karkoschka menyebutkan, tidak pernah dijumpai di planet gas raksasa lainnya.

Untuk mencari tahu berapa durasi satu hari di planet itu, Karkoschka mengukur putaran Neptunus dengan mengamati dua fitur yang terlihat mata milik atmosfir planet tersebut. Ia kemudian mengukur garis bujur di antara setiap gambar yang ditangkap lalu menentukan interval waktu antara observasi dan menyediakan informasi periode putaran.

Berhubung Neptunus telah berotasi sekitar 10 ribu kali dalam 20 tahun terakhir, Karkoschka dapat mengetahui secara akurat periode putaran dengan melacak fitur-fitur ini dalam jangka waktu tersebut.

Hasil penelitian ini merupakan peningkatan pengetahuan yang signifikan terhadap rotasional planet gas sejak pertamakali Giovanni Cassini berhasil mendapati bintik merah planet Jupiter, pada 350 tahun lalu.

Saat ini di kalangan ilmuwan sendiri tampak muncul konsensus bahwa temuan Karkoschka memang akurat. Menurut Craig O’Neill, ilmuwan antariksa dari Macquarie University, Australia, temuan Markoschka seputar periode fitur milik atmosfir Neptunus tepat.

“Selain itu, Karkoschka juga menunjukkan bahwa di kawasan kutub, kecepatan angin lebih rendah dibanding di khatulistiwa,” ucap O’Neill. “Pertanyaan besar berikutnya adalah, bagaimana caranya itu bisa terjadi,” ucapnya.
• VIVAnews

Senin, 04 Juli 2011

Pisau Cukur dari Bahan Langka


Pisau ini bisa menciptakan potongan lima ribu kali lebih kecil dari rambut.

SENIN, 4 JULI 2011, 08:05 WIB
Mutia Nugraheni
Zafirro Iridium (Laughingsquid.com)

VIVAnews - Sebuah pisau cukur eksklusif diciptakan dari bahan-bahan terbaik. Terbuat dari metal meteorit dan mata pisau dihiasi batu safir, pisau cukur ini dijual seharga US$100 ribu atau Rp850 juta.

Menurut perusahaan yang memproduksinya, pisau eksklusif yang diberi nama Zafirro Iridium ini akan 'abadi'. Dengan menggunakan energi tinggi serta partikel terionisasi, pisau cukur ini bisa menciptakan potongan lebar kurang dari 100 atom, lima ribu kali lebih kecil dari rambut. 

Gagangnya terbuat dari iridium, salah satu logam langka paling kuat yang pernah ada. Pisau juga terbuat dari baja, bersifat antialergi, tahan terhadap oksidasi dan korosi, serta sangat tajam.

Iridium adalah bahan turunan dari meteorit. Kelangkaannya lebih dari 10 kali  platinum. Bahan tersebut biasanya digunakan oleh industri kedirgantaraan untuk komponen seperti mesin roket, yang sangat mementingkan daya tahan.

Untuk menjaga keeksklusivitasannya, pisau ini hanya dibuat 99 buah. Portland, perusahaan yang memproduksinya, juga mengklaim kalau Zafirro Iridium adalah pisau cukur paling tajam yang pernah dibuat. 

"Tujuan kami membuat Zafirro adalah sebagai lompatan kuantum dalam teknologi pisau cukur. Termasuk membuat pisau paling tajam dan bertahan selamanya," kata Hayden Hamilton, Chief Executive Officer (CEO) dari Portland, seperti dikutip dari Orange.co.uk.

Portland memanfaatkan teknologi di berbagai bidang seperti manufaktur roket, nanoteknologi, dan fisika partikel. Hal itu untuk menggabungkan bahan paling langka, paling kuat, dan teknologi paling canggih yang pernah ada. (art)
• VIVAnews