Selasa, 21 Juni 2011

Eksperimen Pencari Partikel Ilahi Catat Rekor Tabrakan

Large Hadron Collider (LHC). Foto: telegraph.co.uk

TEMPO Interaktif, Jenewa - Eksperimen Large Hadron Collider (LHC) mencatatkan rekor jumlah tabrakan terbanyak yang pernah dilakukan mesin pemercepat partikel. Hingga Minggu 19 Juni 2011, jumlah tabrakan partikel di laboratorium ini mencapai 1 femtobarn atau setara 70 triliun tabrakan.

"Jumlah tabrakan yang melimpah bisa membawa peneliti pada pengetahuan fisika baru," ujar Direktur Pemercepat dan Teknologi CERN, Steve Myers.

LHC merupakan eksperimen penabrakan partikel fundamental pada kecepatan tinggi yang dilakukan sejak tahun 2008. Tabrakan pada energi tinggi membuat partikel hancur berkeping-keping sehingga menampakkan partikel penyusun yang lebih kecil. Dengan menabrakkan partikel secara berulang-ulang, peneliti bisa melihat lebih banyak partikel mendasar. Beberapa partikel mendasar telah diramalkan di atas kertas namun masih menunggu pembuktian dari eksperimen.

Rekor jumlah tabrakan yang dicatatkan LHC membuat peneliti yakin bahwa pengetahuan fisika baru bisa terungkap sewaktu-waktu. Di LHC, ratusan peneliti muda dari seluruh penjuru dunia datang mencari partikel baru. Salah satu partikel paling diburu adalah Higgs boson atau biasa disebut sebagai partikel ilahi.

"Jika alam berbaik hati, terobosan besar bisa datang di tahun ini," ujar salah seorang fisikawan partikel Fabiola Gianotti.

ANTON WILLIAM

Energi Nuklir Dinilai Tidak Tepat untuk Indonesia

Pembangkit listrik tenaga uap di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO Interaktif, Jakarta - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Rinaldy Dalimi, menyatakan wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir bukan solusi untuk mengatasi krisis energi di Indonesia. Kekurangan energi di Indonesia terjadi bukan karena kurangnya sumber energi, tapi karena kesalahan tata kelola dan manajemen yang tepat.
Saat ini, sumber daya energi Indonesia tidak bisa dikendalikan penuh oleh pemerintah," ujar Rinaldy dalam diskusi CSIS "PLTN di Indonesia Aspek Kesejahteraan dan Keselamatan", hari ini, Kamis, 12 Mei 2011.

Hal itu terjadi karena produksi energi nasional sebagian besar sudah terikat kontrak jangka panjang dengan pihak lain. Misalnya, Indonesia saat ini adalah penghasil batubara terbesar di dunia dengan cadangan 104 miliar ton. Begitu pula dengan produksi gas, di mana hampir 50 persen untuk kepentingan ekspor.

Selain itu, perusahaan negara yang bergerak dalam bidang energi, seperti Pertamina, Perusahaan Listrik Negara, dan Perusahaan Gas Negara, sudah beralih fungsi tidak lagi melayani publik, tapi juga berorientasi bisnis.

Rinaldy memaparkan akan lebih efektif jika pemerintah fokus pada pembangunan sumber energi dengan potensi yang ada. "Sebesar 40 persen potensi energi panas bumi di seluruh dunia, ada di Indonesia. Gunakan potensi ini," kata dia.

Tidak hanya panas bumi, untuk energi terbarukan Indonesia berpotensi energi hydro 75,67 Giga Watt (GW), Energi tenaga ombak 240 GW, dan biomassa, 49,81 GW.

Sementara, dalam pembangunan PLTN banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti, kelangkaan bahan bakar PLTN, yaitu uranium, risiko kemanan, dan minim sumber daya manusia yang siap untuk mengelola PLTN.

"Uranium dan bahan bakar PLTN harus diimpor. Ujungnya akan menambah beban subsidi listrik juga," kata dia.

DWITA ANGGIARIA